BerandaBerita UmumIda Yuhana Ulfa: Adik Bungsu yang Penuh Semangat, Meniti Jalan Pengabdian

Ida Yuhana Ulfa: Adik Bungsu yang Penuh Semangat, Meniti Jalan Pengabdian

Matalensa-news.com-Magetan-Namanya Ida Yuhana Ulfa, adik bungsuku yang penuh semangat. Kami adalah lima bersaudara, empat perempuan dan satu laki-laki. Sejak kecil, Ida sudah menunjukkan kemandirian yang luar biasa. Tak disangka, ia kini maju sebagai calon Wakil Bupati Kabupaten Magetan. Sebelumnya, Ida lebih banyak berkutat di dunia pendidikan, menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), dan kini ia terjun ke dunia politik yang sering dianggap penuh intrik dan tipu daya. Sebuah keputusan yang tak mudah, apalagi harus melepaskan statusnya sebagai ASN.

Ida lahir di Desa Plumpung, Plaosan, pada tahun 1981, sebagai putri dari pasangan alm. Bapak Djawahir, seorang Kepala Dinas di Kabupaten Magetan, dan almarhumah Ibu Siti Romlah, Kepala Sekolah MI Plumpung. Jiwa pendidik memang sudah mengalir dalam dirinya sejak kecil. Ida juga adalah cucu dari KH Moch Djazuli, seorang tokoh agama yang berjasa menyebarkan Islam di Plaosan dan mendirikan Masjid Baiturrahim di Desa Plumpung.

Sejak lulus dari MI Plumpung, Ida memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di pesantren. Ia menjalani masa SMP dan SMA di MTsN/MAN Bahrul Ulum, Jombang, sambil mondok di Pesantren Al Fathimiyah Tambakberas. Di bawah asuhan KH Abdul Nashir Fattah dan Bu Nyai Musyarofah Fattah, jiwa kepemimpinannya semakin terasah. Lulus dari Aliyah pada tahun 1999, Ida melanjutkan studi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui jalur PMDK, mengambil jurusan Bimbingan Konseling. Di kampus, ia aktif dalam berbagai organisasi, seperti Himpunan Mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa, dan PMII.

Tahun 2004, setelah menyelesaikan kuliahnya, idealisme sebagai aktivis membawanya menjadi wartawan harian sore Surabaya Pos. Setahun kemudian, ia lulus tes CPNS di Magetan dan menjadi guru di SMPN 2 Panekan, yang kini dikenal sebagai SMPN 1 Sidorejo. Di masa itu, Ida tetap aktif dalam organisasi, hingga pada tahun 2006, ia bertemu dengan Nur Wakhid, seorang putra dari KH Suryani Maulana Chusain, dan menikah pada tahun 2007.

Kehidupan Ida sebagai ibu dari lima anak dan guru tak menghalanginya untuk terus mengembangkan diri. Pada tahun 2013, ia menyelesaikan S2 Bimbingan Konseling di Universitas Negeri Malang. Bersama suaminya, ia mendirikan SMK Roda Magetan dan SMP Roda Magetan di lingkungan pesantren mereka, yang kini berkembang pesat.

Kini, Ida tak hanya dikenal sebagai pendidik, tetapi juga seorang tokoh di berbagai organisasi. Ia menjabat sebagai Ketua PAC Muslimat NU Lembeyan, Ketua PC LP Ma’arif NU Kabupaten Magetan, dan terlibat dalam berbagai organisasi lainnya. Semua ini menunjukkan dedikasinya yang tak pernah surut.

Ketika Ida memutuskan untuk maju dalam Pilkada Kabupaten Magetan, kami, keluarga besar, terkejut. Dunia politik bukanlah hal yang ia tekuni sebelumnya. Namun, ia yakin, dan yang terpenting, ia merasa didorong oleh amanah para kiai untuk maju. “Bismillah, aku laksanakan semampuku,” katanya.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments