BerandaBerita UmumPuluhan Embrio Event Disuntik Mati, Aktivis Nilai CoE Magetan 2026 Matikan Nafas...

Puluhan Embrio Event Disuntik Mati, Aktivis Nilai CoE Magetan 2026 Matikan Nafas Kreatif

Matalensa-news.com-Magetan – Peluncuran Calendar of Events (CoE) Magetan 2026 yang digelar meriah di Festival Plaza Ndoyo, Kamis malam (11/12/2025), justru memunculkan gelombang kritik dari publik. Bukan hanya soal penyusutan jumlah agenda yang drastis, tetapi juga dugaan bahwa kebijakan tersebut mematikan ruang kreatif komunitas lokal.

Jika pada 2025 CoE Magetan memuat sekitar 75 event, tahun ini daftar tersebut menyusut menjadi sekitar 37 agenda. Pemangkasan lebih dari 50 persen itu memunculkan tanda tanya besar mengenai proses kurasi, kesiapan penyelenggara, hingga transparansi evaluasi tahun sebelumnya.

Kepala Disbudpar Magetan, Joko Trihono, menyatakan bahwa event yang masuk CoE 2026 merupakan agenda yang “paling mungkin dilaksanakan”, sambil mengakui belum adanya kurasi penuh karena keterbatasan sertifikasi. Namun pernyataan tersebut dianggap publik belum menjelaskan hilangnya puluhan event dari kalender resmi.

Agus Pujiono Aktivis (Forum Rumah Kita )

Kritik datang dari Agus Pujiono, aktivis Forum Rumah Keterbukaan Informasi dan Keterbukaan Anggaran (Rumah Kita). Ia menilai pemangkasan CoE 2026 bukan sekadar pengurangan teknis, melainkan pukulan telak terhadap kreativitas warga.

“Dari 75 event hidup di 2025, tiba-tiba dibabat tinggal 35 di 2026. Artinya puluhan embrio yang lahir dari keringat komunitas anak muda, ibu-ibu PKK, karang taruna, seniman kampung langsung disuntik mati sebelum sempat bernapas panjang,” ujarnya.

Menurut Agus, keputusan tersebut mencerminkan penyusunan CoE yang tidak partisipatif dan minim keterbukaan.
“Tanpa transparansi evaluasi dan perencanaan, event hanya jadi alat kekuasaan bukan milik rakyat,” tegasnya.

Ia mendesak Disbudpar membuka data evaluasi CoE 2025 serta melibatkan komunitas sejak tahap awal penyusunan agenda 2026.

“Biarkan event jadi api kebanggaan yang menyala di setiap desa. Kalau embrio-embrio ini terus dibunuh dalam gelap, lima tahun lagi kita cuma punya satu festival besar setahun, 36 foto medsos dinas, dan nol denyut nadi di kampung-kampung,” pungkasnya.

Selain pemangkasan jumlah event, CoE 2026 juga disorot karena masih didominasi program tahunan yang sudah lama berjalan. Festival Sarangan, Kirab Gunungan, Festival Bambu, dan Festival Duren Nak’Nan kembali menjadi andalan tanpa ada penambahan signifikan.

Para pelaku wisata menilai kondisi ini menunjukkan masih minimnya terobosan untuk menarik wisatawan baru di tengah persaingan destinasi yang semakin ketat.

Hingga kini belum ada laporan resmi terkait realisasi CoE 2025. Tidak diketahui berapa banyak event yang terlaksana, ditunda, atau batal. Ketiadaan evaluasi dianggap sebagai kelemahan mendasar dalam penyusunan kalender pariwisata Magetan.

Ironisnya, meski CoE 2026 sudah diluncurkan, dokumen berisi jadwal lengkap, lokasi, dan penyelenggara juga belum dipublikasikan di laman Magetan Tourism & Culture. Kondisi ini membuat pelaku wisata kesulitan menyiapkan strategi pemasaran dan paket promosi.

Disbudpar menargetkan CoE 2026 mendorong pertumbuhan UMKM dan ekonomi kreatif. Namun tanpa transparansi, tanpa inovasi, serta tanpa pelibatan komunitas, tujuan tersebut dinilai sulit tercapai.

Pelaku pariwisata menyebut CoE seharusnya bukan sekadar acara peluncuran yang meriah, tetapi dokumen kerja yang akurat, terbuka, dan benar-benar mampu menggerakkan roda pariwisata daerah.

Tanpa pembenahan menyeluruh, CoE Magetan dikhawatirkan hanya akan menjadi ritual tahunan meriah di panggung, tetapi tidak memberi kehidupan bagi denyut  warga di bawahnya.(A.d)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments