Matalensa-news.com – MAGETAN – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Magetan terus memperkuat upaya menjaga kerukunan masyarakat dengan menggelar kegiatan Pemantapan Kewaspadaan Nasional dalam Pencegahan Intoleransi melalui Moderasi Beragama dan Pengawasan Aliran Kepercayaan di Pendopo Kecamatan Ngariboyo, Kamis (21/5/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari langkah strategis Pemerintah Kabupaten Magetan dalam menghadapi ancaman intoleransi dan penyebaran paham radikal yang kini semakin mudah berkembang melalui media sosial dan ruang digital.

Acara dibuka oleh Plh Kepala Bakesbangpol Magetan, Joko Trihono, serta dihadiri unsur Forkopimca, tokoh agama, tokoh masyarakat, kepala desa, perangkat desa, hingga tokoh pemuda se-Kecamatan Ngariboyo. Sedikitnya 125 peserta mengikuti kegiatan yang berlangsung penuh dialog dan edukasi kebangsaan tersebut.
Dalam sambutannya, Joko Trihono menegaskan bahwa menjaga toleransi bukan hanya tugas pemerintah maupun aparat keamanan, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, intoleransi dapat menjadi ancaman serius apabila masyarakat mulai kehilangan sikap saling menghargai terhadap perbedaan agama, budaya, maupun pandangan hidup.
“Paham intoleransi dan radikalisme sering tumbuh karena kurangnya pemahaman, minimnya literasi, serta mudahnya masyarakat terpengaruh informasi yang belum tentu benar,” ujarnya.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi informasi saat ini turut mempercepat penyebaran narasi provokatif yang berpotensi memecah belah persatuan. Bahkan, algoritma media sosial dinilai mampu menciptakan ruang gema yang memperkuat opini negatif dan memicu polarisasi di tengah masyarakat.
Karena itu, Bakesbangpol Magetan mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial sekaligus aktif membangun komunikasi yang sehat di lingkungan masing-masing.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan Bapperida Kabupaten Magetan, indeks toleransi Kabupaten Magetan tahun 2025 berada di angka 84,27 dengan kategori cukup baik. Meski demikian, pemerintah menilai kewaspadaan tetap harus diperkuat agar kondisi kondusif tetap terjaga.
Selain melalui forum diskusi dan sosialisasi, upaya pencegahan intoleransi juga dilakukan dengan memperkuat pendidikan karakter sejak dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun komunitas sosial.
“Keluarga menjadi benteng pertama dalam membentuk karakter generasi muda agar memiliki sikap toleran, cinta damai, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila,” jelas Joko Trihono.
Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Magetan berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga harmoni sosial serta mampu menjadi garda terdepan dalam menangkal penyebaran paham intoleran di lingkungan sekitar.
Kegiatan ini sekaligus mendukung visi pembangunan Kabupaten Magetan 2025-2030 untuk mewujudkan daerah yang nyaman, maju, dan berkelanjutan dengan kehidupan masyarakat yang guyub rukun serta berlandaskan nilai agama dan budaya.
“Mari bersama-sama menjaga Magetan tetap aman, damai, dan harmonis demi masa depan generasi yang lebih baik,” pungkasnya.
