Matalensa-news.com – Magetan-, Suasana belajar di SDN Kawedanan 2 sempat menjadi perhatian setelah sebanyak 15 siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan secara bertahap sejak awal pekan. Puncaknya terjadi pada Kamis (21/5/2026), ketika belasan siswa tidak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar karena sakit.
Pihak sekolah bersama UPTD Puskesmas Kawedanan langsung melakukan langkah cepat dengan pendataan dan pemeriksaan terhadap siswa yang mengalami keluhan kesehatan tersebut.
Kepala SDN Kawedanan 2, Sugeng Purwanto mengatakan, laporan siswa sakit berasal dari kelas 3A dan 3B dengan kondisi kesehatan yang berbeda-beda.
“Teman-teman guru melaporkan ada beberapa siswa yang tidak masuk dan ada juga yang dipulangkan karena kondisi kesehatannya menurun. Kami langsung berkoordinasi dengan Puskesmas Kawedanan agar segera dilakukan penanganan,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Berdasarkan data sekolah, kejadian tersebut tidak berlangsung secara bersamaan. Pada Senin tercatat dua siswa tidak masuk sekolah karena sakit. Selanjutnya pada Rabu mulai ada siswa yang dipulangkan, hingga akhirnya Kamis menjadi hari dengan jumlah siswa sakit terbanyak.

“Awalnya hanya beberapa anak yang izin sakit, namun hari ini jumlahnya bertambah menjadi 15 siswa yang terdata mengalami keluhan kesehatan,” tambah Sugeng.
Meski isu dugaan keracunan sempat beredar di masyarakat, pihak sekolah menegaskan bahwa hingga kini belum ada kesimpulan resmi mengenai penyebab pasti kondisi tersebut. Pasalnya, gejala yang dialami siswa tidak seragam.
Ada siswa yang mengalami demam, pilek, mual, hingga lemas. Bahkan beberapa di antaranya diketahui sudah mengalami sakit sejak berada di rumah.
Sugeng meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak langsung mengaitkan kejadian tersebut dengan program MBG sebelum ada hasil pemeriksaan dari tenaga medis.
“Kami berharap masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan anak-anak dan situasi tetap kondusif,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Kawedanan, Siti Maifuroh menyampaikan bahwa pihaknya masih melakukan tracking serta screening terhadap siswa yang mengalami keluhan kesehatan.
“Kami masih mengumpulkan data dan melakukan pemeriksaan. Karena gejalanya berbeda-beda, kami belum bisa memastikan apakah berkaitan dengan makanan atau faktor lain,” jelasnya.
Pihak puskesmas juga membuka kemungkinan pemeriksaan lanjutan, termasuk uji laboratorium apabila nantinya diperlukan untuk memastikan penyebab para siswa jatuh sakit.
Proses pemantauan terhadap kondisi siswa masih terus dilakukan. Dinas kesehatan pun mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi guna menghindari keresahan di tengah masyarakat.(*)
